IndSan

IndSan

Jakarta (9/5/17) -“ Menulis itu mudah, maka jika anda ingin jadi penulis....menulis sajalah “,

Sepenggal kata motivasi sederhana, tapi mempunyai arti yang sangat mendalam itu disampaikan oleh Edi Suharto,Ph.D selaku Kepala Badan Pendidikan, Penelitian dan Penyuluhan Sosial pada saat membuka Kegiatan Workshop Peningkatan Kapasitas Jabatan Fungsional Pekerja Sosial dan  Penyuluh Sosial yang diselenggarakan di Aula Pancasila, Wisma Tanah Air, Cawang Jakarta Timur. Kegiatan yang diikuti oleh 150 Orang Pejabat Fungsional Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial se Jabodetabek dan Rumah Sakit serta beberapa undangandari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, BBRSBG Temanggung dan BBRSBD Prof DR Soeharso Surakarta juga mendapatkan materi dari Drs Manggana Lubis, M.Si selaku Kepala Pusbangprof Peksos dan Pensos terkait tentang Kebijakan Pusat Pengembangan Profesi Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial dalam meningkatkan Kompetensi Fungsional Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 (dua) hari 9 – 10 Mei 2017 ini mengambil tema Etika Penulisan Karya Ilmiah dalam Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial dan Penyuluh Sosial, tema ini dianggap penting untuk diselenggarakan karena bertujuan untuk memperkaya serta mempertajam kreatifitas para Pejabat Fungsional dalam menuangkan gagasan dan menyebarkan informasi tentang Isu-isu Kesejahteraan Sosial terkini melalui media penulisan. Sehingga Upaya Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia dapat terus berkelanjutan.(Hasatama Hikmah)

 

Bandung, 5/5/2017. Ada suasana berbeda pada ujian praktikum III mahasiswa D IV STKS Bandung kali ini. Biasanya ujian dilaksanakan seperti layaknya ujian praktikum dan hanya diuji oleh dosen pembimbing dan dosen penguji. Ujian praktikum  kali ini, kompetensi praktiknya  diuji oleh  Asesor Lembaga Sertifikasi Profesi Pekerja Sosial dan Tenaga Kesejahteraan Sosial (LSP).  Ini adalah bagian dari uji kompetensi jalur pendidikan yang digelar perdana oleh LSP dan Pusbangprof Peksos dan Pensos. Ratusan mahasiswa berseragam putih hitam menunggu giliran dipanggil untuk laksanakan ujian praktikum yang digabung dengan uji kompetensi (ukom).

Ukom pekerja sosial yang disatukan dengan ujian praktikum makro merupakan langkah perdana pada ukom jalur pendidikan. “Sebagai langkah awal ukom jalur pendidikan, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Penyempurnaan kegiatan ini kita evaluasi setelah seluruh proses ukom berlangsung. Bahwa ada banyak kritik dan saran pada ukom perdana ini, adalah hal biasa” ujar Rudi Saprudin Darwis. Pernyataan ini disampaikan Rudi (ketua LSP) di tengah-tengah rapat evaluasi yang berlangsung di ruang kelas Program SP 1 lantai 2. Dalam rapat evaluasi (5/5) yang dihadiri pengurus LSP dan asesor ini muncul pro-kontra terhadap ukom jalur pendidikan yang disatukan dengan ujian praktikum.

Asesor yang pro, menyatakan bahwa model ini lebih praktis karena peserta cukup membawa laporan praktikumnya. Dari sisi asesor, cukup memberikan penilaian aspek praktiknya saja dan tidak perlu membaca deskripsi diri. Ujian praktik yang dinilai asesor meliputi empat kompetensi, yaitu kompetensi professional, pelayanan, sosial dan personal. selain itu juga menilai pengetahuan, kemampuan, ketepatan dan sikap peserta dalam mempraktikkan metode/teknik yang diterapkan saat praktik di masyarakat. Asesor yang kontra, beralasan kurangnya waktu untuk menguji dan melakukan pendalam aspek praktiknya. Perbedaan kepentingan antara dosen dan asesor, tidak dapat dihindarkan dalam proses ini. Ujian praktikum dan uji kompetensi adalah dua hal yang berbeda, ujar Matias.

Ukom jalur pendidikan diikuti 364 dari 367 peserta yang direkomendasikan. Satu orang peserta tidak hadir karena sakit dan dua orang peserta belum siap mengikuti ujian karena laporan praktikum belum jadi. Rangkaian ukom yang digabung dengan ujian praktikum dilaksanakan Rabu-Kamis (3-4/5) dan ujian tulis dilaksanakan Jumat (5/5). Pengolahan data ukom dilaksanakan Sabtu (6/5). Ujian praktikum dilaksanakan di 26 ruangan kelas yang ada di STKS. Ujian tulis dilaksanakan di Auditorium

dan dua kelas di Program SP1. Berdasarkan hasil koreksi ujian tulis, nilai rata-rata ujian tulis peserta lebih baik dibanding nilai ujian tulis jalur penilaian langsung.

Ukom perdana ini melibatkan 53 dosen STKS dan 26 asesor LSP. Meski masih banyak kelemahan, setidaknya model ini menjadi media transformasi pengetahuan dan praktik antara dosen dan asesor dalam melaksanakan uji kompetensi. “Selama ini, kita menganggap mahasiswa sudah melaksanakan FGD dengan benar. Namun, setelah dikoreksi dan diluruskan asesor, ternyata belum sepenuhnya tepat. Kesannya, FGD seperti interview kelompok” ujar Rosikin, salah satu dosen penguji STKS. (Mira Wuryantari / E. Yoga Yasonta)  

Page 2 of 2