HomeE-SertifikasiInfo Lainnya Refresher Training dan Uji Kompetensi bagi Konselor Adiksi

Refresher Training dan Uji Kompetensi bagi Konselor Adiksi

Foto bersama Peserta dan Trainer Uji Kompetensi bagi Konselor Adiksi

 

Tidak ada yang menyangka. Laki-laki yang tampak bersih dan rapi yang sebagian anggota tubuhnya bertatto itu dulunya adalah penyalahguna zat adiktif atau Gangguan Penggunaan Zat (GPZ). Kini, laki-laki tersebut menjadi konselor adiksi dan menjadi bagian dari 60 peserta Refresher Training (RT). Mereka berusaha untuk mendapatkan sertifikat internasional sebagai konselor adiksi. Bahkan diantara panitia kegiatan tersebut juga terdapat mantan pengguna zat adiktif yang kini juga menjadi konselor adiksi. Realitas ini menunjukkan bahwa pengguna zat adiktif yang menjalani proses rehabilitasi dan mendapatkan konseling secara efektif bisa menjadi manusia yang dapat menjalankan peran sosialnya secara maksimal.

Refresher Training (RT) merupakan kegiatan penyegaran materi bagi konselor, pekerja sosial, praktisi klinis dan medis, akademisi, pembuat kebijakan, widyaiswara, anggota masyarakat yang sedang mengikuti program pemulihan dan pekerja di bidang adiksi yang akan mengikuti ujian sertifikasi untuk mendapat sertifikat konselor adiksi yang diakui secara internasional.

 

Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Parahita Education Provider, Yayasan Kasih Mulia dan Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) Kementerian Sosial RI menyelenggarakan RT di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Jl. Margaguna Raya No. 1 bagi 60 orang peserta dari tanggal 24 - 29 Oktober 2016. Rangkaian RT terbagi dalam kegiatan training ( dari tanggal 24 – 28 Oktober) dan kegiatan ujian sertifikasi (29/10).

Kegiatan RT bertujuan meningkatkan kesiapan peserta dalam mengikuti ujian untuk mendapatkan kredensial International Certified Addiction Professionals (ICAP) yang diakui National Association of Alcohol and Drugs Abuse Conselors (NAADAC). Tingkat kesulitan yang dihadapi peserta ujian sangat lah tinggi, oleh karena itu peserta ujian perlu dipersiapkan secara matang. Apalagi pelaksanaan ujian ini dilakukan oleh Professional Testing Company (PTC) New York di bawah pengawasan ICCE Colombo Plan. Berdasarkan pelaksanaan RT sebelumnya, tingkat kelulusan peserta hanya 50 persen. Persyaratan peserta RT sangat ketat, baik yang ingin mendapatkan ICAP I ataupun ICAP II. Calon peserta harus mengirimkan verifikasi tertulis dalam bentuk surat resmi dari supervisor atau pimpinan yang menjelaskan kompetensi diri dalam penanganan GPZ. Calon peserta juga diharuskan membaca dan menandatangani kode etik komisi ICCE. Mengingat kegiatan ini berstandar internasional, maka pembayaran RT menggunakan dollar USA, sebesar 100 $/peserta.  



Diantara 60 peserta tersebut, terdapat 2 orang pekerja sosial dan 5 widyaiswara dari Kemensos. Ketujuh peserta dari Kemensos tersebut sudah pernah mengikuti kegiatan sebelumnya dan telah dinyatakan lulus seleksi untuk mengikuti RT. Menurut Kepala Pusbangprof Peksos dan Pensos, Manggana Lubis “Pekerja sosial yang diutus pada kegiatan ini diharapkan dapat menularkan pengetahuan dan keahliannya dalam kegiatan rehabilitasi pengguna zat adiktif. Sedangkan utusan dari widyaiswara, diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini dapat menyusun materi pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh pekerja sosial adiksi yang bertugas di bawah Kementerian Sosial. Apalagi pekerja sosial adiksi menjadi salah satu prioritas sertifikasi di masa mendatang. Ketujuh peserta tersebut dibiayai sepenuhnya dari Kemensos”.

 

Hambatan terbesar bagi peserta RT ini adalah beban mental, karena sudah mengikuti ujian sertifikasi yang lalu tapi tidak lulus. Soal-soal ujian lebih banyak bersifat hafalan dan analisis kasus. Kalau tidak menguasai pengetahuan dan praktik di bidang GPZ dengan jam terbang tinggi, sepertinya sulit untuk lulus, kata Lilis (Peksos BRSPP Lembang). Hambatan lainnya adalah perbedaan pemahaman antara adiksi dan konselor di Indonesia dengan di Amerika Serikat yang mengacu pada ICCE Colombo Plan. Kurikulumnya disusun berdasarkan pengalaman praktik adiksi di Amerika Serikat yang berbeda secara kultural dengan di Indonesia. Belum lagi materinya terlalu banyak, kata Emilia (dosen STKS Bandung). Bagi Adi (widyaiswara Makassar) dan Hotibin (widyaiswara Banjarmasin), sertifikat kegiatan ini sangat diperlukan dan menjadi syarat utama bagi widyaiswara yang mengajar pekerja sosial adiksi. Tanpa sertifikat berstandar internasional ini, kami tidak diperkenankan mengajar, ujar mereka berdua.

Materi pelatihan terdiri dari 8 kurikulum. Kurikulum 1 tentang Fisiologi dan Farmakologi untuk profesi bidang adiksi. Kurikulum 2 tentang Terapi untuk GPZ – Rawatan Berkelanjutan untuk profesi bidang adiksi. Kurikulum 3 tentang Gangguan Diagnosis Ganda Mental dan Medis. Kurikulum 4 tentang Ketrampilan Konseling Dasar untuk Adiksi. Kurikulum 5 tentang Penerimaan Awal, Skrining, Assesmen, Rencana Terapi dan Dokumentasi. Kurikulum 6 tentang Manajemen Kasus. Kurikulum 7 tentang Intervensi Krisis dan Kurikulum 8 tentang Etika Profesi. Ke delapan kurikulum ini disampaikan melalui proses tanya jawab antara pemateri dengan peserta yang dibagi dalam dua kelompok. Selain itu juga latihan menjawab soal-soal ujian. Peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat ICAP.  Jakarta (29/10/2016) - Mira Wuryantari

Read 1057 times Last modified on Friday, 04 November 2016 07:35

About the author